For the English translation, please skip to the end of this article.
Kenyataan akhbar ini dikeluarkan dalam Bahasa Indonesia:
Pernyataan Sikap Bersama
Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Parti Sosialis Malaysia (PSM) dan Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP)
Bangun Persatuan Kelas Pekerja Asia Tenggara!
Kaum buruh tidak mempunyai tanah air. Kita tidak dapat mengambil dari mereka apa yang tidak ada pada mereka.
(Karl Marx, 1848)
Pendahuluan
Beberapa waktu yang lalu kembali berkumandang sentiment-sentimen anti Malaysia setelah munculnya kasus dugaan klaim Malaysia terhadap tarian pendet. Kedua belah pihak, Pemerintah Indonesia dan Malaysia pun saling mengomentari persoalan itu. Disisi lain muncul aksi-aksi di Indonesia yang mengusung isu anti Malaysia. Kejadian tersebut bukanlah kali pertama terjadi. Sebelumnya sentiment-sentimen Chauvinis tersebut telah muncul beberapa kali akibat kasus-kasus seperti perebutan daerah seperti Pulau Sipadan Ligitan, Blok Ambalat, Pulau Jemur; klaim budaya seperti Tarian Reog dan juga Lagu Rasa Sayang-sayange.
Kepentingan Kelas Borjuasi dibelakang Sentimen Chauvinis
Meningkatnya sentimen anti Malaysia maupun anti Indonesia sesungguhnya adalah ekspresi kepentingan politik kelas borjuasi yang berkuasa di kedua negara. Jika kita perhatikan sensasi yang dihembuskan di media massa sebagai alat untuk membakar kebencian rakyat ke dua bangsa adalah selalu menyangkut soal HAK KEPEMILIKAN PRIBADI dan AKSES TERHADAP MODAL. Mulai dari kasus sengketa pulau-pulau dan perairan yang mengandung sumber gas dan mineral (Ambalat, Sipadan-Ligitan) hingga kisruh hak paten kebudayaan (sic) dalam persaingan bisnis pariwisata.
Dalam kasus perebutan Blok Ambalat terlihat kepentingan modal yang bermain didalamnya. Blok Ambalat merupakan area kaya dengan minyak bumi (diperkirakan sebesar 1 miliar barrel minyak mentah) menjadi rebutan dari perusahaan-perusahaan minyak internasional. Indonesia pada tahun 1980an telah menandatangani perjanjian dengan Emi Ambalat Ltd. (Italia) dan Unocal Indonesia Ventures Ltd (AS). Sementara Malaysia telah menandatangani perjanjian dengan Shell (Belanda) dan Petronas.
Sementara itu klaim-klaim budaya oleh Malaysia selalu berkaitan dengan kepentingan industri pariwisata Malaysia. Industri pariwisata Malaysia merupakan sektor terbesar kedua untuk mendapatkan mata uang asing, setelah manufaktur. Sebagai contoh ekonomi Malaysia mendapatkan RM 17,40 miliar dari 10,22 juta wisatawan pada tahun 2000. Tahun-tahun berikutnya selalu mengalami peningkatan, tahun 2001 menjadi RM 24,20 miliar, tahun 2002 menjadi RM 25,80 miliar. Kemudian pada tahun 2004 menjadi RM 29,7 miliar dan RM 32 miliar ditahun 2005. Tahun lalu Malaysia mendapatkan RM 36,3 miliar (USD 10,4 miliar) dari sektor pariwisata. Sektor pariwisata Malaysia juga memberikan sumbangan cukup besar pada ketersediaan lapangan kerja. Dari total seluruh tenaga kerja Malaysia 51 persen bekerja pada sektor jasa. Jumlahnya sekitar 5,4 juta dari 10,73 juta tenaga kerja nasional dipekerjakan secara langsung ataupun tidak langsung di sektor pariwisata seperti restaurant, agen perjalanan, maskapai penerbangan, transportasi, dsb. Dengan menyediakan lapangan kerja, sektor pariwisata telah memainkan peran penting untuk menekan pengangguran pada tingkatan sekitar 3,5 persen (tahun 2005/2006).
Kepentingan dan Perjuangan Internasional Kelas Pekerja Malaysia dan Indonesia
Esensi dari pengobaran kebencian terhadap ORANG MALAYSIA di Indonesia dan ORANG INDONESIA di Malaysia adalah cerminan sikap klise usang dari kepentingan reaksioner borjuis yang berkedok nasionalis. PRP, KASBI, dan PSM lebih bersepakat untuk memahami pengobaran chauvinisme kebangsaan sempit saat ini dalam perspektif Marxis. Karl Marx pernah menyatakan, “Kaum buruh tidak mempunyai tanah air. Kita tidak dapat mengambil dari mereka apa yang tidak ada pada mereka." Kelas pekerja bersifat internasional dan harus berjuang di arena internasional. Kelas pekerja di Indonesia dan Malaysia justru harus memperkuat solidaritas perjuangan dan merefleksikan dengan tepat komentar Karl Marx tentang nasionalisme reaksioner kelas Borjuis.
Pembangunan solidaritas internasional tidak dapat dilepaskan dari perlawanan terhadap Imperialisme dan Neoliberalisme. Imperialisme dan Neoliberalisme masuk ke Negara-negara dunia ketiga melalui berbagai cara. Serangan militer seperti yang dilakukan terhadap rakyat Irak ataupun melalui Rejim Boneka yang berkuasa. Di Indonesia kebijakan-kebijakan neoliberal masuk melalui Rejim Boneka yang berkuasa. Kebijakan-kebijakan tersebut merupakan bagian dari pengucuran hutang melalui lembaga-lembaga keuangan internasional ataupun langsung dari Negara-negara Imperialis utama. Kebijakan-kebijakan tersebut antara lain; privatisasi, penjualan sumber daya alam serta labour market flexibility. Bahkan hari ini ditengah kondisi krisis kapitalisme global kelas pekerja dalam semua variasinya (bekerja dan menganggur, musiman, kontrak atau subkontrak, formal dan informal) adalah sumber utama penghasilan kapitalis (secara langsung melalui keuntungan atau tidak langsung melalui bunga, pajak, royalti dan sewa).
Mentalitas reaksioner seperti chauvinisme dan semua mentalitas reaksioner dan kolot, akan dihilangkan dalam masyarakat sosialis, bukan dengan cara memaksa orang, melainkan karena kondisi sosial akan dirubah. Dan kondisi sosial cenderung membentuk pikiran dan sentimen orang. Kondisi sosial di bawah kapitalisme yang mendewa-dewakan kepemilikan pribadi dan eksploitasi sebagai cara kaum borjuasi mengejar kemakmuran harus dihapuskan. Seiring dengan dibangunnya kondisi sosial yang sosialistis dimungkinkan pula hapusnya prasangka reaksioner picik yang hanya menguntungkan kepentingan kelas borjuasi tapi menghasut kelas pekerja untuk berperang dan bertikai diantara sesama kelas tertindas di dua negeri yang ditindas neoliberalisme dan imperialisme —Indonesia dan Malaysia.
15 Oktober 2009
Anwar Ma'ruf
Pengerusi Nasional
Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP)
Jakarta, Indonesia
Nining Elitos
Pengerusi
Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI)
Jakarta, Indonesia
Choo Chon Kai
Biro Antarabangsa
Parti Sosialis Malaysia (PSM)
Kuala Lumpur, Malaysia
English translation:
Build Working Class Unity in South East Asia!
The working men have no country. We cannot take from them what they have not got.
(Karl Marx, 1848)
Introduction
Sometime ago returned resounding sentiment of anti-Malaysian after the appearance of alleged claims cases of Pendet dance by Malaysia. Both sides; the Indonesian and the Malaysian Government comment on each other regarding that claim. On the other hand appeared demonstration in Indonesia, which brought anti-Malaysia issue. These incident is not happening for the first time. Previously, chauvinist sentiment has appeared several times due to such cases as territorial disputes like Island of Ligitan Sipadan, Block Ambalat, Island of Jemur; art claims like Reog dance as well as Rasa Sayang-Sayange traditional song.
The Bourgeoisie Interest behind Chauvinist Sentiments
The increase of anti-Malaysian sentiment or anti-Indonesia sentiment is an expression of political interest of the bourgeoisie as the ruling class in both countries. If we exam the sensation blows by the media as a tools to burn peoples hatred in the two nations are always impinged to PRIVATE PROPERTY RIGHTS and ACCESS TO CAPITAL. Starting from territorial disputes that containing gas and mineral resources (Ambalat, Sipadan-Ligitan) until disputes about cultural patent rights (sic) in the tourism business competition.
In the case of dispute about Block Ambalat we can see the capital interests playing in it. Block Ambalat is an area rich with crude oil (estimated around 1 billion barrels of crude oil) became seizure of multinational oil companies. Indonesia in the 1980s has signed an agreement with Emi Ambalat Ltd. (Italy) and Unocal Indonesia Ventures Ltd. (USA). While Malaysia has signed an agreement with Shell (Netherlands) and Petronas.
Meanwhile, culture claims by Malaysia is always related to the interests of the Malaysian tourism industry. Malaysia's tourism industry is the second largest sector for foreign currency, after manufacturing. For example, Malaysia's economy get RM 17.40 billion from 10.22 million tourists in 2000. Following years is always increase, in 2001 became RM 24, 20 billion, in 2002 became RM 25.80 billion. Later in the year 2004 became RM 29.7 billion and RM 32 billion in 2005. Last year Malaysia got RM 36.3 billion (USD 10.4 billion) from tourism sector. Malaysian tourism sector also contributed to the availability of substantial employment. Of the total Malaysian labor force, 51 percent work in the service sector. The number is around 5.4 million out of 10.73 million national workforce employed directly or indirectly in the tourism sector such as restaurants, travel agents, airlines, transportation, etc. By providing employment, tourism sector has played an important role to suppress the level of unemployment at around 3.5 percent (year 2005/2006)
The Interest and International Struggle of Indonesian and Malaysian Working Class
The essence of the flaming hatred towards the MALAYSIAN PEOPLE in Indonesia or INDONESIAN people in Malaysia is a reflection of old cliché attitude of the reactionary bourgeois with nationalist masquerade. PRP, KASBI and PSM agree to understand the flaming of narrow nationality chauvinism in a Marxist perspective. Karl Marx once proclaimed, "The working men have no country. We cannot take from them what they have not got.†The working class has an international nature and must fight in international arena. The Indonesian and Malaysian working class should strengthen their solidarity struggle and correctly reflecting Karl Marx comment on reactionary nationalism of the bourgeois class.
Developing an international solidarity can not be separated from the fight against Imperialism and Neoliberalism. Imperialism and Neoliberalism grip third world countries through various ways. Military attacks as perpetrated against the Iraqi people or through a ruling puppet regime. In Indonesia, neoliberal policies implemented through the puppet regime in power. These policies are part of the loan extending through international financial institutions or directly from the main Imperialist countries. These policies, among others are; privatization, the sale of natural resources and labor market flexibility. Even today, amid the global capitalist crisis the working class in all its variations (employment and unemployment, seasonal, contract or subcontract, formal and informal) is the main source of capitalist income (directly through profit or indirectly through interest, taxes, royalties and rent).
Reactionary mentality like chauvinism and all reactionary and conservative mentality, will be eliminated in a socialist society, not by forcing people, but because of social conditions would be changed. And social conditions tend to form thoughts and sentiments of people. Social conditions under capitalism, which extol private ownership and exploitation as a way of bourgeoisie pursuing prosperity must be abolished. Along with the construction of the socialist social conditions also possible wipe all of the reactionary petty prejudices that only benefits the interests of the bourgeoisie but incite working class to war and conflict among the oppressed classes in the two countries that are oppressed by neoliberalism and imperialism - Indonesia and Malaysia.
October 15, 2009
Anwar Ma'ruf
National Chairperson
Working People's Association (PRP)
Jakarta, Indonesia
Nining Elitos
Chairperson
Confederation Congress of Indonesia Union Alliance (KASBI)
Jakarta, Indonesia
Choo Chon Kai
International Bureau
Socialist Party of Malaysia (PSM)
Kuala Lumpur, Malaysia


